Tampilkan postingan dengan label NASEHAT-NASEHAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NASEHAT-NASEHAT. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Agustus 2009

Persiapan Menuju Akhirat


Saudaraku, berikut ini merupakan bekal bagi kita untuk menuju alam akhirat. Dengan bekal ini diharapkan perjalanan panjang yang akan kita lalui menjadi mudah. Dan semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan kita semua dalam melewati alam barzakh, makhsyar, hisab, mizan, dan sirath. Bekal-bekal tersebut di antaranya adalah:

1. Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala, malaikat, kitab-kitab, para Rasul-Nya dan hari Akhir serta Qadar baik dan buruk.

2. Menjaga shalat fardhu lima waktu di masjid dengan mengerjakannya secara berjama'ah pada waktunya, dengan penuh kekhusyu'an dan mema-hami makna-maknanya. Sedangkan bagi wanita, shalat di rumah adalah lebih utama.

3. Mengeluarkan zakat wajib pada waktunya sesuai dengan ukuran dan sifat-sifatnya yang telah disyari'atkan.

4. Puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala dari Allah subhanahu wata’ala.

5. Haji yang mabrur, sebab tiada balasan baginya kecuali surga dan berumrah di bulan Ramadhan yang pahalanya setara haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Mengerjakan hal-hal yang sunnah, yaitu yang di luar shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji. Dalam hadits Qudsi, Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
"Dan senantiasalah hamba-Ku mende-katkan diri kepada-Ku dengan hal-hal yang sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. Al-Bukhori dan Ahmad)

7. Segera bertaubat yang sebenarnya dari semua perbuatan maksiat dan munkar serta bertekad untuk memanfaatkan waktu-waktu yang tersedia dengan memperbanyak istighfar, dzikir, dan beragam jenis keta'atan.

8. Berbuat ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala dan meninggalkan riya' dalam segala urusan. (Baca: QS. Al-Bayyinah: 5)

9. Mencintai Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya yang hanya bisa terealisir dengan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. (Baca: QS. Ali 'Imran: 31)

10. Mencinta karena Allah, membenci karena Allah, loyal karena Allah dan memusuhi karena Allah. Dan konsekuensi dari hal ini adalah mencintai kaum Mukminin sekali pun mereka jauh dan membenci orang-orang kafir sekali pun mereka dekat.

11. Takut kepada Allah subhanahu wata’ala, Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu-Nya, rela hidup berkekurangan serta bersiap diri menyambut hari kepergian (saat kematian). Inilah hakikat takwa.

12. Bersabar atas bencana yang menimpa, bersyukur di saat mendapatkan kesenangan, merasa selalu dalam pengawasan Allah subhanahu wata’ala dalam setiap kondisi serta berharap mendapatkan karunia dan pemberian-Nya.

13. Bertawakkal dengan baik kepada Allah subhanahu wata’ala. (Baca: QS. Al-Ma'idah: 23)

14. Menuntut ilmu yang bermanfa'at dan berusaha untuk menyebarkan dan mengajarkannya. (Baca: QS. Al-Mujadilah: 11; Ali 'Imran: 187)

15. Mengagungkan al-Qur'an dengan mempelajari dan mengajarkannya, menjaga batasan-batasan dan hukum-hukumnya, mengetahui halal dan haramnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari)

16. Berjihad di jalan Allah, murabathah di jalan-Nya, tegar menghadapi musuh dan tidak lari dari medan peperangan. Hal ini berdasar-kan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Janganlah kamu mengangankan bertemu musuh, mintalah keselamatan kepada Allah; jika kamu bertemu mereka, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah kilatan pedang." (Muttafaqun 'alaih)

17. Menjaga lisan dari hal-hal yang diharamkan seperti berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu-domba), mencaci, melaknat, berkata kotor dan musik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (Muttafaqun 'alaih)

18. Menepati janji, menunaikan amanah, tidak berkhianat dan licik. (Baca: QS. Al-Ma'idah: 1; QS. Al-Baqarah: 283)

19. Tidak melakukan zina, minum khamer, membunuh jiwa yang diharamkan Allah subhanahu wata’ala kecuali dengan haq, berbuat zhalim, memakan harta orang lain secara batil, memakan riba dan memakan sesuatu yang secara syari'at bukan miliknya. (Baca: QS. Al-A'raf: 33)

20. Wara' (menjaga kesucian diri) dalam hal makanan dan minuman serta menghindari sesuatu yang tidak halal darinya. (Baca: QS. Al-Maidah: 3)

21. Berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali rahim, mengunjungi teman-teman, bersabar atas tingkah polah mereka, mengupayakan berbuat baik, terhadap orang dekat atau pun jauh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi hajatnya dan barangsiapa yang menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di dunia yang dihadapi seorang mukmin, niscaya Allah akan menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di hari Kiamat yang dihadapinya." (Muttafaqun 'alaih)

22. Menjenguk orang sakit, berziarah kubur, mengiringi jenazah, sebab hal itu dapat mengingatkan akhirat dan membuat zuhud dalam kehidupan di dunia.

23. Tidak memakai pakaian yang diharamkan seperti sutera, emas, tidak berpakaian melebihi mata kaki bagi laki-laki (Isbal) dan menggunakan bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum.

24. Berhemat dalam nafkah, menjaga nikmat dan tidak berbuat mubazir. (Baca: QS. Al-Isra': 26)

25. Tidak dengki, iri, memusuhi, saling membenci dan menjatuhkan kehor-matan kaum Muslimin dan Muslimah dengan tanpa haq.

26. Beramar ma'ruf nahi munkar, berdakwah mengajak orang kepada Allah subhanahu wata’ala dengan cara hikmah dan Mau'izhoh Hasanah.

27. Berlaku adil terhadap manusia, tolong-menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa. (Baca: QS. Al-An'am: 152)

28. Berakhlak mulia seperti Tawadhu' (rendah hati), kasih sayang, lemah lembut, malu, halus hati, menahan emosi, dermawan, tidak sombong, angkuh, dan sebagainya.

29. Menjalankan hak-hak anak-anak dan isteri secara penuh dan mengajarkan mereka masalah-masalah agama yang diperlukan.(Baca: QS. At-Tahrim: 06)

30. Memberi salam dan membalasnya, mendoakan orang yang bersin, memuliakan tamu dan tetangga, menutupi aib pelaku maksiat semampunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang menutupi (aib) saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat." (Muttafaqun 'alaih)

31. Zuhud di dunia, pendek angan-angan sebelum ajal menjemput.

32. Cemburu (sensitif) terhadap kehormatan, memicingkan mata dari hal-hal yang diharamkan

33. Menghindari hal yang sia-sia dan bermain-main serta melakukan perkara-perkara positif.

34. Mencintai shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ke-luarga beliau (pen), berlepas diri dari orang-orang yang membenci atau men-cela mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang mencela para shahabatku, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia." (HR. Ath-Thabarani, dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani)

35. Mendamaikan sesama manusia, menengahi beda pendapat di antara dua orang yang berselisih pendapat sehingga jurang perselisihan dan perpecahan tidak meluas

36. Tidak mendatangi dukun, ahli nujum, para tukang sihir, para peramal dan sebagainya

37. Wanita hendaknya patuh terhadap suaminya, menjaganya dalam harta, anak dan ranjangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Bila seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mena'ati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.!” (HR. Ibnu Hibban, dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani)

38. Tidak berbuat Bid'ah (mengada-ada) di dalam agama atau menyeru kepada kebatilan dan kesesatan.

39. Kaum wanita hendaknya tidak menyambung rambutnya dengan rambut lain (menyanggul atau rambut Wig), tidak mentato, mencukur alis, meratakan gigi dengan tujuan hanya untuk mempercantik diri.

40. Tidak mematai-matai kaum Muslimin dan mengungkap aurat serta menyakiti mereka.

Read More ..

Rabu, 28 Januari 2009

Wasiat Al-Albani Untuk Segenap Kaum Muslimin

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani



Sebagai ulama besar yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap umat ini. Imam al-Albani rahimahullah telah menyampaikan wasiat berupa nasihat dan bimbingan yang diperuntukkan kepada kaum Muslimin di seluruh dunia. Nasihat ini disampaikan pada bulan-bulan terakhir kehidupannya di dunia fana ini.
Isi wasiat, sebagai berikut :

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah Jalla Jalaluhu, kami memujiNya, memohon ampunan dan pertolonganNya. Kami berlindung kepadaNya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Siapa yang ditunjuki Allah Jalla Jalaluhu niscaya tiada yang menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkanNya tiada pula yang menunjukinya, Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah satu-stunya, tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan RasulNya.

Wasiatku kepada setiap muslim di belahan bumi manapun berada, lebih khusus kepada saudara-saudara kami yang ikut berpartisapasi bersama kami dalam penisbatan kepada dakwah yang penuh barakah ini, yaitu dakwah kepada al-Qur'an dan as-Sunnah sesuai dengan manhaj Salafus Shalih.

Aku wasiatkan kepada mereka dan terutama diriku agar bertakwa kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Kemudian agar membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat sebagaimana firman Allah Jalla Jalaluhu.

"Artinya : Dan bertakwalah kepada Allah, Allah akan mengajarimu" [Al-Baqarah : 282]

Hendaknya mereka ketahui bahwa ilmu yang baik atau benar menurut pandangan kami tidak keluar dari al-Qur'an dan as-Sunnah yang sesuai dengan manhaj dan pemahaman Salafush Shalih.

Hendaknya mereka padukan antara ilmu yang dimiliki dan pengamalannya sedapat mungkin. Dengan demikian ilmu tidak menjadi hujjah yang justru mencelakakan mereka, yang mana pada hari itu harta benda dan anak keturunan tidak bermanfaat kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.

Aku ingatkan, agar waspada dari segala bentuk kerjasama dan persekutuan dengan orang-orang yang dalam banyak hal telah keluar dan menyimpang dari jalur Salafi. Penyimpangan-penyimpangan itu sangat banyak. Bilamana dipadukan akan identik dengan sikap khuruj (keluar) yang berarti memberontak terhadap kaum Muslimin dan jama'ah mereka.

Kami hanya perintahkan agar mereka mewujudkan sebuah komunitas seperti yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih.

"Artinya : Dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara" [Hadits Riwayat Muslim, lihat Mukhtashar Shahiih Muslim no. 1775]

Hendaknya kita bergaul dengan cara yang baik dan ramah dalam berdakwah mengajak orang-orang yang menyelisihi dakwah kita. Agar sesuai dengan manhaj dan pemahaman Salafush Shalih.

Dan selamanya kita harus berpegang teguh pada firman Allah Jalla Jalaluhu.

"Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik" [An-Nahl : 125]

Orang yang paling berhak diperlakukan dengan cara hikmah adalah orang yang paling keras menentang kita dalam prinsip dan aqidah kita. Hal ini kita lakukan agar tidak tertumpu pada kita dua beban yang berat, beratnya dakwah haq yang telah dianugrahkan Allah Jalla Jalaluhu kepada kita kemudian dibebani lagi dengan jeleknya cara dakwah kita kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Aku berharap dari semua saudara-saudaraku yang berada di setiap negeri Islam, agar melaksanakan adab-adab yang Islami ini, semata-mata karena mengharap wajah Allah 'Azza wa Jalla dan tidak mengharap balasan dan tidak pula ucapan terima kasih dari manusia.

Semoga apa yang sampaikan ini telah mencukupi.

Walhamdulillahi Rabbil 'aalamin. [1]




Read More ..

Nasihat Bagi Pemuda Muslim dan Penuntut Ilmu

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani


Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaarakan wa Ta'ala seperti :
1] Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.

"Artinya : ... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ...?" [Al-Mujaadilah : 11]

[2] Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian " Thalibul Ilmi" (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya. Diantara perkara-perkara itu :

[a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.
[b] Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan "harta warisan" berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita.

Meminta bantuan dalam berpendapat dengan berpedoman pada perkataan dan pendapat Salaf, akan sangat membantu kita untuk menghilangkan berbagai kegelapan dan mengembalikan kita kepada sumber Islam yang murni, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah yang shahihah.

Sesuatu yang tidak tertutup bagi kalian bahwasannya aku hidup di suatu zaman yang mana kualami padanya dua perkara yang kontradiksi dan bertolak belakang, yaitu pada zaman dimana kaum muslimin, baik para syaikh maupun para penuntut ilmu, kaum awam ataupun yang memiliki ilmu, hidup dalam jurang taqlid, bukan saja pada madzhab, bahkan lebih dari itu bertaqlid pada nenek moyang mereka.

Sedangkan kami dalam upaya menghentikan sikap tersebut, mengajak manusia kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Demikian juga yang terjadi di berbagai negeri Islam. Ada beberapa orang tertentu yang mengupayakan seperti apa yang kami upayakan, sehingga kamipun hidup bagaikan "Ghuraba" (orang-orang asing) yang telah digambarkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dalam beberapa hadits beliau yang telah dimaklumi, seperti :

"Artinya : Sesungguhnya awal mula Islam itu sebagai suatu yang asing/aneh, dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing"

Dalam sebagian riwayat, Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Mereka (al-Ghurabaa) adalah orang-orang shaleh yang jumlahnya sedikit sekeliling orang banyak, yang mendurhakai mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka" [Hadits Riwayat Ahmad]

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda :
"Artinya : Mereka orang-orang yang memperbaiki apa yang telah di rusak oleh manusia dari Sunnah-Sunnahku sepeninggalku".

Aku katakan : "Kami telah alami zaman itu, lalu kami mulai membangun sebuah pengaruh yang baik bagi dakwah yang di lakukan oleh mereka para ghuraba, dengan tujuan mengadakan perbaikan ditengah barisan para pemuda mukmin. Sehingga kami jumpai bahwa para pemuda beristiqomah dalam kesungguhan di berbagai negeri muslim, giat dalam berpegang teguh pada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala mengetahui keshahihannya".

Akan tetapi kegembiraan kami terhadap kebangkitan yang kami rasakan pada tahun-tahun terakhir tidak berlangsung lama. Kita telah dikejutkan dengan terjadinya sikap "berbalik", dan perubahan yang dahsyat pada diri pemuda-pemuda itu, di sebagian negeri[1]. Sikap tersebut, hampir saja memusnahkan pengaruh dan buah yang baik sebagai hasil kebangkitan ini, apa penyebabnya ? Di sinilah letak sebuah pelajaran penting, penyebabnya adalah karena mereka tertimpa oleh perasaan ujub (membanggakan diri) dan terperdaya oleh kejelasan bahwa mereka berada di atas ilmu yang shahih. Perasaan tersebut bukan saja diseputar para pemuda muslim yang terlantar, bahkan terhadap para ulama. Perasaan itu muncul tatkala merasa bahwa mereka memilki keunggulan dengan lahirnya kebangkitan ini, atas para ulama, ahli ilmu dan para syaikh yang bertebaran diberbagai belahan dunia Islam.

Sebagaimana merekapun tidak mensyukuri nikmat Allah Jalla Jalaluhu yang telah memberikan Taufik dan Petunjuk kepada mereka untuk mengenal ilmu yang benar beserta adab-adabnya. Mereka tertipu oleh diri mereka sendiri dan mengira sesungguhnya mereka telah berada pada status kedudukan dan posisi tertentu.

Merekapun mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak matang alias mentah, tidak berdiri diatas sebuah pemahaman yang bersumber dari al-Qur'an dan as-Sunnah. Maka tampaklah fatwa-fatwa itu dari pendapat-pendapat yang tidak matang, lalu mereka mengira bahwasanya itulah ilmu yang terambil dari al-Qur'an dan as-Sunnah, maka mereka pun tersesat dengan pendapat-pendapat itu, dan juga menyesatkan banyak orang.

Suatu hal yang tidak sama bagi kalian, akibat dari itu semuanya muncullah sekelompok orang ("suatu jama'ah") dibeberapa negeri Islam yang secara lantang mengkafirkan setiap jama'ah-jama'ah muslimin dengan filsafat-filsafat yang tidak dapat diungkapkan secara mendalam pada kesempatan yang secepat ini, apalagi tujuan kami pada kesempatan ini hanya untuk menasehati dan mengingatkan para penuntut ilmu dan para du'at (da'i).

Oleh sebab itu saya menasehati saudara-saudara kami ahli sunnah dan ahli hadits yang berada di setiap negeri muslim, agar bersabar dalam menuntut ilmu, hendaklah tidak terperdaya oleh apa yang telah mereka capai berupa ilmu yang dimilikinya. Pada hakekatnya mereka hanyalah mengikuti jalan, dan tidak hanya bersandar pada pemahaman-pemahaman murni mereka atau apa yang mereka sebut dengan "ijtihad mereka".

Saya banyak mendengar pula dari saudara-saudara kami, mereka mengucapkan kalimat itu, dengan sangat mudah dan gampang tanpa memikirkan akibatnya : "Saya berijtihad". Atau "Saya berpendapat begini" atau "Saya tidak berpendapat begitu", dan ketika anda bertanya kepada mereka ; Kamu berijtihad berdasarkan pada apa, sehingga pendapatmu begini dan begitu ? Apakah kamu bersandar pada pemahaman al-Qur'an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta ijma' (kesepakatan) para ulama dari kalangan Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang lainnya ? Ataukah pendapatmu ini hanya hawa nafsu dan pemahaman yang pendek dalam menganalisa dan beristidlal (pengambilan dalil)?. Inilah realitanya, berpendapat berdasarkan hawa nafsu, pemahaman yang kerdil dalam menganalisa dan beristidlal. Ini semuanya dalam keyakinanku disebabkan karena perasaan ujub, kagum pada diri sendiri dan terperdaya.

Oleh sebab itu saya jumpai di dunia Islam sebuah fenomena (gejala) yang sangat aneh, tampak pada sebagian karya-karya tulis.

Fenomena tersebut tampak dimana seorang yang tadinya sebagai musuh hadits, menjadi seorang penulis dalam ilmu hadits supaya dikatakan bahwa dia memiliki karya dalam ilmu hadits. Padahal jika anda kembali melihat tulisannya dalam ilmu yang mulia ini, anda akan jumpai sekedar kumpulan nukilan-nukilan dari sini dan dari sana, lalu jadilah sebuah karya tersebut. Nah apakah faktor pendorongnya (dalam melakukan hal ini) wahai anak muda ? Faktor pendorongnya adalah karena ingin tampak dan muncul di permukaan. Maka benarlah orang yang berkata.

"Perasaan cinta/senang untuk tampil akan mematahkan punggung (akan berkaibat buruk)"

Sekali lagi saya menasehati saudara-saudaraku para penuntut ilmu, agar menjauhi segala perangai yang tidak Islami, seperti perasaan terperdaya oleh apa yang telah diberikan kepada mereka berupa ilmu, dan janganlah terkalahkan oleh perasaan ujub terhadap diri sendiri.

Sebagai penutup nasehat ini hendaklah mereka menasehati manusia dengan cara yang terbaik, menghindar dari penggunaan cara-cara kaku dan keras di dalam berdakwah, karena kami berkeyakinan bahwasanya Allah Jalla Jalaluhu ketika berfirman.

"Artinya : Serulah manusia kejalan Rabbmu dengan hikmah dan peringatan yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik ..." [An-Nahl : 125]

Bahwa sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu tidaklah mengatakannya kecuali dengan kebenaran (al-haq) itu, terasa berat oleh jiwa manusia, oleh sebab itu ia cenderung menyombongkan diri untuk menerimannya, kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Maka dari itu, jika di padukan antara beratnya kebenaran pada jiwa manusia plus cara dakwah yang keras lagi kaku, ini berarti menjadikan manusia semakin jauh dari panggilan dakwah, sedangkan kalian telah mengetahui sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Bahwasanya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan (manusia dari agama) ; beliau mengucapkan tiga kali".

[Nasehat ini dinukil dari kitab "Hayat al-Albani" halaman : 452-455]


[Disalin dari Majalah : as-Salafiyah, edisi ke 5/Th 1420-1421. hal 41-48, dengan judul asli "Hukmu Fiqhil Waqi' wa Ahammiyyatuhu". Ashalah, diterjemahkan oleh Mubarak BM Bamuallim LC dalam Buku "Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan Ahli Hadits Abad ini" hal. 127-150 Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i.]
_________
Foote Note.
[1] Penyusun katakan : "Sebagaimana yang terjadi di negeri ini, munculnya beberapa gelintir manusia dengan berpakaian "Salafiyah", memberikan kesan seolah-olah mereka mengajak kepada pemahaman Salaf, namum hakekatnya mereka adalah pengekor hawa nafsu dan perusak dakwah Salafiyah, akibatnya mereka hancur berkeping-keping, dan saling memakan daging temannya sendiri. Wal 'iyadzu billahi, kami mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari nasib yang serupa





Read More ..

Nasehat Untuk Para Da'i

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz



Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Kami minta perkenan Syaikh untuk memberikan motivasi bagi para da’i dan Thalib ‘ilm (penuntut ilmu syar’i) agar mereka menyelenggarakan kajian-kajian dan ceramah-ceramah di seluruh pelosok negeri, karena pada kenyataannya, ada sebagian wilayah yang vakum, sedikit da’i dan malas serta enggannya sebagian penuntut ilmu untuk menyelenggarakan kajian-kajian dan ceramah-ceramah, yang mana hal ini mengakibatkan merajalelanya kebodohan dan tidak diketahuinya As-Sunnah serta merebaknya kesyirikan dan perbuatan-perbauatan bid’ah. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memelihara Syaikh.
Jawaban.
Tidak diragukan lagi, bahwa kewajiban para ulama, di mana pun mereka berada, adalah menyebarkan kebenaran, menyebarkan As-Sunnah dan mengajari manusia serta tidak enggan atau sungkan untuk melakukannya. Bahkan wajib atas para ahli ilmu untuk menyebarkan kebenaran melalui kajian-kajian di masjid sekitar tempat tinggal mereka, walaupun mereka bukan imam masjid-masjid tersebut. Sementara para imam masjid pun wajib berdakwah, setidaknya melalui khutbah-khutbah Jum’at. Jadi masing-masing mereka wajib mempedulikan khutbah Jum’at dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Begitu pula ceramah-ceramah dan seminar-seminar, harus bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, hendaknya para praktisi dakwah menjelaskan perkara-perkara agama yang masih samar terhadap masyarakat, menerangkan tentang kewajiban-kewajiban terhadap sesamanya, baik itu tetangga maupun lainnya. Pokoknya, semua yang berhubungan dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar serta mengajak ke jalan Allah, perlu disampaikan. Disamping itu, perlu pula menganut metode kelembutan dan hikmah dalam mendakwahi orang jahil.

Jika para ulama tidak angkat bicara, tidak menasehati dan tidak membimbing masyarakat, maka orang-orang jahil akan tampil berbicara, akibatnya mereka sesat dan menyesatkan. Telah disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sekali pencabutan begitu saja dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama, sehingga tatkala tidak ada lagi orang alim, manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya (tentang ilmu) kemudian mereka pun memberi fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga (akibatnya) mereka sesat dan menyesatkan” [Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya, kitab Al-Iman 100]

Semoga Allah menyelamatkan kita dan semua kaum muslimin dari segala keburukan.

Dari penjelasan tadi bisa diketahui, bahwa yang wajib atas para ahli ilmu di mana pun mereka berada, baik di kota maupun di desa, baik di negeri ini maupun di negeri lainnya, adalah mengajari manusia dan membimbing mereka sesuai dengan tuntunan Allah Azza wa Jalla dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat menemukan kesulitan dalam hal ini, mereka wajib merujuk kepada Al-Kitab, As-Sunnah dan ucapan para ahli ilmu.

Seorang alim harus belajar hingga meninggal, yaitu belajar untuk memecahkan kesulitan yang ditemuinya, merujuk pendapat para ahli ilmu dengan landasan dalil-dalilnya, sehingga dengan begitu ia bisa memberi fatwa kepada masyarakat dan mengajari serta mengajak mereka berdasarkan ilmu yang mapan.

Sesungguhnya, manusia itu membutuhkan ilmu hingga ia mati, bahkan para sahabat Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali pun. Jadi, setiap manusia harus menuntut ilmu, memahami agama, mengkaji dan mempelajari, mangkaji Al-Qur’an dan menghayatinya, mengkaji hadits-hadits yang mulia serta penjelasannya, dan mengkaji pendapat-pendapat para ahli ilmu, sehingga dengan begitu ia bisa mengambil manfaat dan mengetahui hal-hal yang selama ini tidak diketahuinya, bisa mengajari orang lain dengan ilmu yang telah dianugrahkan Allah kepadanya, baik itu dirumah, di sekolah, di kampus, di masjid dekat rumahnya, di mobil, di pesawat terbang, di mana saja, bahkan di tempat pekuburan saat menguburkan orang mati, yaitu saat selesai menguburkan, orang-orang diminta tinggal sejenak untuk kemudian diingatkan kepada Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maksudnya, hendaknya seorang alim menggunakan kesempatan di setiap tempat yang sesuai dan di setiap pertemuan yang layak, tidak menyia-nyiakan kesempatan, bahkan memanfaatkannya untuk memberikan peringatan dan menyampaikan dakwah dengan perkataan yang baik, tutur kata yang halus dan mantap, dengan tetap waspada agar tidak mengatasnamakan Allah tanpa ilmu. Wallahu waliyut taufiq.

[Majalah Al-Buhuts Al-Islmiyyah, edisi 36, hal. 127-128, Syaikh Bin Baz]



Read More ..

Nasehat Untuk Ikhwan Dan Akhwat 3/3

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Bagian Terkahir dari Tiga Tulisan [3/3]



Salah satu upaya untuk menjaga shalat fajar tepat pada waktunya dan melaksanakannya secara berjamaah, maka hendaklah seseorang bersegera untuk tidur dan tidak begadang terlalu malam.
Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membenci tidur sebelum Isyak dan ngobrol sesudahnya.

Disyariatkan bagi mukminin dan mukminat mencurahkan segala kemampuannya untuk menjaga shalat agar tepat pada waktunya tidak begadang setelah Isyak, karena hal itu terkadang menjadikan seseorang ketiduran --ketinggalan Shalat Fajar--. Seyogyanyalah pada saat-saat yang perlu dicermati ini kita saling tolong menolong agar bisa melaksanakannya. Sebagaimana layaknya tolong menolong antar anggota keluarga dalam menunaikan urusan shalat Fajar ini.

Allah berfirman :

"Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran". [Al-Maidah : 2]

"Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran". [Al-Ashr : 1-3].

Wajib bagi kaum muslimin saling memberi nasehat dan berwasiat tentang kebenaran, tolong menolong dalam kebaikan, dan amar ma'ruf nahi mungkar sebelum terjadinya hukuman dari Allah. Telah ada hadist shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkenan dengan perkara tersebut :

"Artinya : Sesungguhnya manusia, apabila melihat kemungkaran dan tidak berupaya untuk merubahnya, dikhawatirkan Allah akan menyegerakan hukuman bagi mereka secara umum".

"Artinya : Ad-dien itu adalah nasihat, ad-dien itu adalah nasihat, ad-dien itu adalah nasihat'. (Nasihat artinya sucinya hati atau ikhlas). Maka bertanyalah sahabat, 'Untuk siapa Ya Rasulullah ?'. Nabi menjawab : 'Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan Imam-imam kaum muslimin, serta kaum muslimin semuanya".

Berkata Jarir bin Abdullah Al-Bajaliy Radhiyallahu anhu.

"Artinya : Aku membai'at Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menegakan shalat, menunaikan zakat dan nasehat untuk setiap muslim".

Disyari'atkan bagi setiap muslim manakala mendengar ajaran yang berfaedah agar menyampaikannya kepada yang lain, demikian pula muslimat agar supaya menyampaikan kepada yang lain, manakala mendengar ilmu yang bermanfaat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi, "Sampaikan ajaran dariku sekalipun hanya satu ayat".

Adalah Nabi manakala berkhotbah di hadapan manusia beliau bersabda : "Hendaklah orang yang menyaksikan (hadir) menyampaikan kepada yang tidak hadir, adakalanya seorang penyampai ajaran (mubaligh) tidak lebih menguasai dari yang sekedar mendengar".

Sabdanya lagi :

"Artinya : Barangsiapa meniti jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan permudah baginya jalan menuju jannah".

Termasuk dalam hadits ini adalah, bagi siapa saja yang datang ke masjid, atau tempat yang terdapat disana halaqah ilmu dan pengajaran ilmu yang bermanfaat. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Barangsiapa yang dikehendaki Allah dengan kabaikan, maka Allah fahamkan dia terhadap agama.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Allah pasti melihat dengan kasih sayang-Nya terhadap seseorang yang mendengar perkataanku (Nabi), lalu meresponnya dengan baik kemudian melaksanakannya sebagaimana yang di dengar, adakalanya pembicara (mubaligh) itu lebih pandai daripada pendengar adakalanya mubaligh itu menyampaikan kepada yang lebih pandai darinya".

"Artinya : Tidalah suatu kaum itu berkumpul di rumah-rumah Allah, kemudian mereka membaca kitabullah dan saling mengajarkan di antara mereka kecuali rasa tenang akan turun kepada mereka, mereka akan Allah dengan rahmat dan akan dikelilingi Malaikat serta mereka diingat Allah tentang apa-apa yang ada di sisi-Nya".

Ini menunjukkan disyariatkannya berlomba dalam halaqah ilmu, menaruh perhatian besar terhadapnya, dan tamak untuk berkumpul dalam rangka tilawatul qur'an dan saling mengajarkannya.

Diantaranya ialah mendengarkan acara-acara keagamaan, penyampaian hadits-hadits yang bermanfaat, penyiaran tilawah qur'an yang dipandu oleh mereka yang dipandang mampu dalam bidang ilmu agama dan bashirah (hujjah) serta kebaikan aqidah.

Sebagaimana sudah dimaklumi, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah, sudah semestinya dilakukan berdasarkan ilmu. Manusia tidak akan mengerti hakekat ibadah yang telah dibebankan kepadanya kecuali dengan belajar dan mendalami agama. Allah berfirman :

"Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". [Adz-Dzariyat : 56].

Ibadah yang bagaimanakah yang diwajibkan kepada kita untuk mempelajari dan mempelajarinya ? Yaitu segala sesuatu yang disyari'atkan Allah dan dicintainya untuk dilakukan hamba-Nya, seperti shalat, zakat, shiyam dan selainnya. Kemudian Allah berfirman :

"Artinya : Dan orang-orang yang membayar zakat".

Zakat adalah haqqul mal, Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat dari sebagian hartanya kepada yang berhak menerima. Allah mewajibkan bagi pembayar zakat agar ikhlas karena Allah berharap pahala-Nya serta takut terhadap hukumannya. Allah berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin". [At-taubah : 60].

Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya :

"Artinya : Mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya".

Setelah Allah menyebutkan shalat, zakat, loyalitas diantara kaum mukmin, amar ma'ruf nahi mungkar, Allah berfirman :

"Artinya : Mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya".

Yaitu, (taat) dalam segala sesuatu, seperti taat dalam masalah amar ma'ruf nahi mungkar, shalat dan zakat. Pendek kata, mentaati Allah dalam segala hal.

Demikian sifat mukminin dan mukminat, yaitu mereka selalu mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam setiap perintah dan larangan-Nya dimanapun mereka berada. Agama seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan ketaatan yang utuh kepada-Nya.

Allah berfirman :

"Artinya : Mereka itulah orang-orang yang akan mendapat karunia Allah".

Kemudian Allah menjelaskan bahwasanya orang-orang yang istiqamah dalam agamanya, menunaikan kewajiban terhadap Allah, mentaati-Nya dan mentaati Rasulullah Shallalalhu 'alaihi wa sallam, mereka itulah yang berhak mendapat karunia di dunia dan di akhirat karena ketaatannya kepada Allah, keimanan dengan-Nya serta pelaksanaan kewajiban terhadap-Nya.

Hal itu juga menunjukkan bahwa sesungguhnya bagi orang yang berpaling, lalai dan orang-orang yang mengabaikan kewajiban, maka bagi mereka sama halnya dengan menyodorkan dirinya untuk di adzab Allah dan dimurkai-Nya.

Rahmat Allah bisa diperoleh dengan amal shalih dan kesungguhan dalam mentaati Allah dan menegakkan perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berpaling serta mengikuti hawa nafsu atau setan, maka baginya naar pada hari kiamat.

Allah berfirman :

"Artinya : Adapun orang-orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya narlah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya janahlah tempata tinggal(nya)". [An-Naziat : 38-41].

Kita memohon kepada Allah dengan Asma'ul Husna-Nya dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, semoga Allah menunjukkan kita dan segenap kaum muslimin kepada ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih, semoga Allah memperbaiki hati kita dan amal kita sekalian, semoga Allah memberi rezeki berupa kemampuan melaksanakan Tawashau bil haq dan tawashau bish shabr, tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, mengutamakan akhirat atas dunia, mempunyai keinginan untuk tetap memiliki keselamatan hati dan amal, ambisi untuk bermanfaat bagi kaum muslimin di manapun mereka berada.

Kita memohon kepada Allah semoga Dia memenangkan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, membimbing para pemimpin kaum muslimin keseluruhan, memperbaiki hati dan amal mereka, memberi mereka pemahaman agama dan kelapangan hati untuk berhukum dan memutuskan perkara dengan syari'at-Nya, tetap istiqamah di jalan-Nya. Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi kita dan seluruh kaum muslimin di segala penjuru dari berbagai macam fitnah dan ujian, menghinakan musuh-musuh Islam di manapun mereka berada, membatasi ruang lingkup kekuasaan mereka, serta menolong ikhwan-ikhwan kita para mujahidin fie sabilillah di setiap tempat. Sesungguhnya Allah pemimpin kaum muslimin dan Maha Kuasa atasnya.

Wa shalallahu wasallam 'ala nabiyina Muhammadin wa alihi shahbihi ajma'iin.



Read More ..

Nasehat Untuk Ikhwan Dan Akhwat 2/3

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Bagian Kedua dari Tiga Tulisan [2/3]



Selayaknya, seorang mukmin dan mukminah senantiasa memperhatikan timing yang tepat dalam beramar ma'ruf nahi mungkar. Janganlah berputus asa apabila ditolak pada hari itu. Sebab bisa jadi akan diterima besok lusa. Seorang mukmin dan mukminah janganlah berputus asa dalam mengingkari kemungkaran, tetapi hendaklah terus menerus dilakukannya. Hendaklah selalu menegakkan amar ma'ruf dan an-nasihah untuk hamba-Nya disertai dengan husnudhan dan mengharap besarnya pahala yang ada di sisi Allah.

Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

"Artinya : Mereka menegakkan shalat dan membayar zakat".

Demikianlah karakteristik mukminin dan mukminat, mereka selalu menegakkan shalat dan menjaga ketetapan waktunya. Bagi laki-laki melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah bersama para ikhwan yang lain. Mereka bergegas menuju masjid tatkala mendengar muadzin berseru : "Hayya 'alash shalaah hayya 'alal-falaah". Mendengar serua muadzin itu mereka akan bersegera ke masjid di setiap saat.

Menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk takut kepada Allah dalam meninggalkan shalat berjamaah, serta berhati-hati terhadap musibah yang banyak menimpa manusia (musibah tidak shalat berjamaah). Berlindunglah kepada Allah dari akibat shalat di rumah dan ketinggalan shalat di masjid. Keadaan mereka nyaris menyerupai keadaan kaum munafik. Ia melaksanakan shalat farhdu di rumah, padahal Allah telah mengaruniakan kesehatan kepadanya, barangkali juga ia mengakhirkan shalat Shubuh hingga terbitnya matahari, bahkan sampai waktu ia akan berangkat kerja baru melaksanakan shalat Shubuh, atau bahkan ia tinggalkan shalat sama sekali. Ini adalah musibah yang besar dan kemungkaran yang membahayakan, karena shalat adalah tiangnya Islam. Barangsiapa menjaga berarti menjaga agamanya, barangsiapa menyia-nyiakannya tentulah ia akan lebih menyia-nyiakan hal yang lain, barangsiapa meninggalkannya maka termasuk kafir. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut :

" Artinya : Perjanjian yang mengikat antara kita dengan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka telah kafir".

Kafirnya orang yang meninggalkan shalat adalah berlaku umum bagi laki-laki dan juga wanita. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih menegaskan lagi dalam sabdanya :

"Artinya : Batas antara seseorang (mukmin) dengan kekafiran atau kemusyrikan adalah meninggalkan shalat".

Tidak dibenarkan bagi mukminin dan mukminat meremehkan perkara shalat. Bagi laki-laki, tidak boleh menunaikan shalat di rumah dengan meninggalkan jamaah di masjid, bahkan menjadi kewajiban bagi laki-laki untuk menunaikannya di masjid.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Barangsiapa mendengar adzan kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur".

Telah datang menghadap Nabi seorang laki-laki lalu berkata : "Ya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, saya seorang yang buta, saya tidak mempunyai penunjuk jalan yang dapat menghantarkan saya ke masjid, apakah ada keringanan bagi saya untuk shalat di rumah ?" Nabi bersabda : "apakah Anda mendengar panggilan adzan untuk shalat ?" Dia menjawab : "Saya mendengar". Nabi bersabda : "Datangilah panggilan adzan itu".

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memberi rukhsah (keringanan) bagi laki-laki tadi padahal sesungguhnya dia buta, dia tidak memiliki seorang penunjuk jalan yang membimbingnya ke masjid. Bagaimana dengan laki-laki yang keadaan penglihatannya sehat ?!!.

Telah dikuatkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang keharusan mendatanngi shalat jamaah di masjid dengan sabdanya :

"Artinya : Sungguh aku ingin sekali perintahkan segera ditunaikannya iqamat untuk shalat dan akan aku perintahkan di antara kalian agar salah seorang mengimami shalat, di saat itulah aku ingin pergi bersama para laki-laki yang sudah siap dengan kayu bakar, menuju rumah kaum lelaki yang tidak shalat berjamaah dan akan aku bakar rumah-rumah mereka".

Hal ini menunjukkan besarnya perintah tersebut, maka wajiblah bagi kaum muslimin memperhatikan shalat jamaah dan untuk bersegera mendatangi masjid setiap kali mendengar adzan. Waspadalah dari rasa malas dan berat hati melaksanakan shalat jamaah, sebab keduanya adalah merupakan sifat-sifat orang munafik. Na'udzubillah kita berlindung kepada Allah dari sifat-sifat mereka.

Allah berfirman :

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikir sekali". [An-Nisaa' : 142]

Wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikan masalah shalat karena shalat adalah pilar penyangga Islam, shalat merupakan rukun Islam terbesar setelah dua kalimat syahadat, barangsiapa menjaganya berarti telah menjaga agamanya, barangsiapa menyia-nyiakannya berarti menyia-nyiakan agamanya. --Wala haula wala quwwata illa billah--. Barangsiapa menjaga shalatnya, menegakkannya dengan khusyuk dan tidak mendahului imam, maka mereka mendapat kebahagiaan sebagaimana firman Allah :

"Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya". [Al-Mukminun : 1-2]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Seburuk-buruk pencurian yang terjadi pada manusia adalah ; 'manusia yang mencuri dalam shalatnya'. Sahabat bertanya : 'Bagaimana terjadi pencurian dalam shalat ?'. Nabi Menjawab :'Shalat yang tidak sempurna rukuknya atau sujudnya".

Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki yang buruk dalam melakukan shalat, yaitu dengan tidak menyempurnakan rukuknya atau sujudnya, maka Nabi memerintahkan laki-laki tersebut agar mengulangi lagi shalatnya.

Nabi bersabda :

"Artinya : Apabila engkau menunaikan shalat, maka sempurnakanlah wudlu, kemudian menghadaplah qiblat, kemudian bertakbirlah, bacalah apa yang mudah bagimu dari sebagian surat Al-Qur'an, rukuklah hingga sempurna rukukmu (tumakninah) kemudian beridirilah hingga lurus tegak, kemudian sujudlah hingga tumakninah sujudmu, kemudian angkatlah kepalamu dari sujud hingga engkau tumakninah dudukmu, kemudian sujudlah hingga tumakninah sujudmu dan kemudian lakukanlah hal itu dalam seluruh shalatmu".

Kebanyakan manusia melakukan shalat dengan mematuk (gerakan terlalu cepat seperti ayam mematuk makanan). Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan itu adalah mungkar. Barangsiapa melakukan shalat dengan mematuk maka batal-lah shalatnya berdasarkan hadits tersebut diatas.

Shalat wajib dilakukan secara tumakninah dalam hal rukuk, sujud, i'tidal setelah rukuk, antara dua sujud dan berhati-hati untuk tidak mendahului imam. Apabila imam bertakbir janganlah segera langsung takbir tapi tunggulah hingga suara takbir imam selesai. Apabila imam berseru "Allahu Akbar" untuk rukuk maka janganlah langsung rukuk, tunggulah hingga imam lurus rukuknya dan berhenti, setelah itu lakukan rukuk. Demikianlah pula dalam sujud, janganlah mendahului imam, jangan pula bersamaan dengan imam, tidak boleh bersamaan dengan imam tidak boleh pula mendahului imam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya aku adalah imam kalian maka janganlah kalian mendahuluiku dalam rukuk dan sujud, ketika berdiri atau ketika mengakhiri shalat"

"Artinya : Sesungguhnya seseorang itu diangkat menjadi imam untuk diikuti maka janganlah kalian menyelisihinya, apabila imam takbir ikutilah kalian takbir dan janganlah kalian takbir hingga imam terlebih dahulu takbir dan apabila imam rukuk maka rukuklah kalian dan janganlah kalian rukuk hingga imam terlebih dahulu rukuk, apabila imam mengucap 'Sami 'allahu liman hamidah' berucaplah, 'Rabbana wa lakal hamdu'. Apabila imam sujud maka sujudlah dan janganlah kalian sujud hingga imam terlebih dahulu sujud".

Perkara ini sesungguhnya telah jelas --bagi setiap yang ingin melakukan shalat sesuai dengan tuntunan Allah-- akan tetapi sebagian manusia tidak sabar melakukannya, mereka cenderung bersegera dan mendahului imam dalam gerakan shalat --Wal iyadu billah-- Wajiblah bagi kita untuk mewaspadai hal itu.




Read More ..

Nasehat Untuk Ikhwan Dan Akhwat 1/3

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Bagian Pertama dari Tiga Tulisan [1/3]



Inilah nasehatku kepada ikhwan dan akhwat fillah pada khususnya, dan kepada seluruh manusia pada umumnya. Inilah nasehatku buat kalian dan juga buat diriku sendiri. Yaitu ; hendaklah kita senantiasa memperhatikan Al-Qur'an, merenungi makna-maknanya. mengahafalnya di luar kepala, tamak untuk terus menerus membacanya, sesekali membaca dengan cara melihat pada mushaf, kali lain membaca dengan hafalan tanpa melihat mushaf. Manakala pembaca Al-Qur'an tergolong yang sudah hafal maka ditindaklanjuti dengan merenungi, memikirkan, dan mencari faedah dari apa yang dibaca. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah :
"Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran". [Shad : 29].

Adapun pelaksanaannya yaitu dengan pengamalan, pemahaman dan pendalaman. Allah subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan Al-Qur'an untuk diamalkan, dikaji dan didalami. Allah berfirman :

"Artinya : Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat". [Al-An'am : 155]

Al-Qur'an ini diturunkan untuk diamalkan dan diikuti. Tidak semata-mata hanya untuk dibaca dan dihafal. Karena menghafal dan membaca itu sekedar perantara saja. Adapun yang dimaksudkan adalah memahami kitab dan sunnah disertai dengan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya dan melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangannya. Hal itu terkumpul dalam perintah Allah Ta'ala di dalam surat At-Taubah : 71.

"Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". [At-Taubah : 71]

Ayat ini merupakan kumpulan dari ayat-ayat yang secara menyeluruh menjelaskan sifat-sifat mukmin dan mukminat dan akhlaknya yang agung serta apa-apa yang diwajibkan atas mereka. Maka firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain". [At-Tubah : 71].

Ayat ini menunjukkan bahwa sesungguhnya mukminin dan mukminat, mereka itu adalah saling menjadi wali satu sama lain, mereka saling memberi nasehat dan saling mencintai karena Allah dan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran dan saling tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa. Demikian sifat mukminin dan mukminat.

Seorang mukminin menjadi wali atas saudaranya fillah, yang laki-laki dan perempuan. Seorang mukminat menjadi wali bagi saudaranya fillah, baik yang laki-laki dan perempuan. Masing-masing diantara mereka merasa senang terhadap kebaikan (yang diperoleh) saudaranya. Mereka mendoakan kebaikannya, turut bahagia atas keistiqamahan saudaranya dan mencegah keburukan yang akan menimpanya, tidak melakukan ghibah padanya, tidak berbicara yang dapat menjatuhkan kehormatannya, tidak mengadu domba tidak memberikan persaksian palsu atasnya dan tidak memakinya, serta tidak memanggilnya dengan panggilan bathil. Demikianlah akhlak mukminin dan mukminat.

Manakala kau dapatkan dirimu menyakiti saudaramu fillah baik laki-laki atau perempaun misalkan dengan mengghibah, mencela, mengadu domba atau mendustainya dan lain semisalnya, ketahuilah bahwa keimananmu kurang atau engkau adalah orang yang lemah iman. Seandainya keimananmu itu benar-benar lurus lagi sempurna, niscaya kamu tidak akan mendhalimi saudaramu atau melakukan ghibah dan adu domba, atau memanggilnya dengan panggilan-panggilan bathil, atau memberikan persaksian palsu atau sumpah palsu atau mencacinya dan semisalnya. Maka keimanan kepada Allah, dan rasul-Nya, taqwa kepada Allah, kebaikan dan hidayah, kesemuanya itu mencegah seseorang melakukan tindakan yang menyakitkan saudaranya fillah baik laki-laki atau wanita. Mereka dilarang melakukan ghibah, cacian, kedustaan, memanggil dengan sebutan yang bathil, mempersaksikan dengan kedustaan dan berbagi macam tindak kezhaliman. Keimanan seseorang yang benar, merintangi dan menghalangi untuk berbuat berbagi tindakan yang menyakitkan saudaranya.

Allah berfirman :

"Artinya : .... mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar,....." [At-Taubah : 71]

Inilah kewajiban yang besar yang didalamnya ada kebaikan bagi umat, kemenangan bagi agama dan terhindarnya sebab-sebab kebinasaan, kemaksiatan dan kejahatan.

Sudah selayaknya bagi mukminin dan mukminat untuk amar ma'ruf nahi mungkar. Seorang mukmin tidak akan berdiam diri melihat kemungkaran yang terjadi pada saudaranya, pastilah ia berusaha untuk mencegahnya. Apabila melihat pada diri saudara, bibi atau saudari perempuan yang lain melakukan kemaksiatan pastilah mereka akan mencegahnya. Apabila melihat pada diri saudaranya fillah meremehkan kewajiban pastikah akan mengingkarinya dan memerintahkannya kepada kebaikan. Itu semua dilakukan dengan bijak dan cara yang baik. Seorang mukmin apabila melihat saudaranya bermalas-malas dalam menunaikan shalat, melakukan ghibah, adu domba, minum khamr, merokok, mabuk-mabukan, durhaka kepada orang tua, memutuskan tali persaudaraan, pastilah ia akan mengingkarinya dengan ucapan yang baik dan cara yang tepat, ia tidak menuduhnya dengan sebutan yang dibenci atau dengan cara yang kasar. Allah telah memberikan penjelasan bahwa hal tersebut adalah dilarang.

Demikian pula jika ia melihat kemungkaran pada diri saudara perempuannya fillah, ia harus mengingkarinya. Seperti tatkala dia tidak patuh kepada orang tuanya, berlaku buruk pada suaminya, meremehkan pendidikan anak-anaknya atau meremehkan shalatnya, maka seorang mukmin harus mengingkarinya, baik (ia itu) suaminya, ayahnya, saudaranya, kemenakannya atau bahkan tidak ada hubungan kekerabatan dengannya. Sebaliknya jika seorang mukminah melihat pada diri suaminya sikap meremehkan (kewajiban), ia pun harus melarangnya. Seperti, jika ia melihat suaminya minum khamr, merokok,meremehkan shalat atau suaminya shalat fardhu di rumah (tidak di masjid), maka ia harus mengingkarinya dengan cara yang baik dan ucapan yang baik pula. Seperti dengan mengatakan (kepada suaminya), "Wahai Hamba Allah, bertaqwalah kepada Allah ! Sesungguhnya perbuatan itu tidak boleh kamu lakukan. Peliharalah shalat jama'ah. Tinggalkanlah apa yang telah diharamkan Allah kepadamu dari minuman yang memabukkan, merokok, mencukur jenggot, memanjangkan kumis atau isbal".

Kemungkaran-kemungkaran ini wajib diingkari oleh setiap orang beriman. Maka hal ini wajib atas suami dan istri, saudara, kerabat, tetangga, teman duduk dan yang lain untuk menegakkan kewajiban ini. Sebagaimana firman Allah :

"Artinya : ... mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar ....". [At-Taubah : 71]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya, apabila manusia telah melihat kemungkaran, lalu ia tidak mau merubahnya, dikhawatirkan Allah akan meratakan adzab-Nya".

"Artinya : Barangsiapa di antara kamu sekalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman".

Perintah ini berlaku umum untuk seluruh bentuk kemungkaran, baik yang terjadi di jalan-jalan, di rumah, di masjid, di kapal terbang, di kereta api, di mobil atau di tempat mana saja. Perintah amar ma'ruf nahi mungkar itu berlaku secara umum baik kepada laki-laki atau perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan harus berbicara tentang amar ma'ruf dan nahi mungkar. Karena amar ma'ruf nahi mungkar membawa kebaikan dan keselamatan untuk semua pihak. Tak seorangpun boleh berdiam diri dari amar ma'ruf nahi mungkar semata-mata karena takut kepada setiap muslim atau takut kepada suami, saudara laki-laki atau fulan dan fulan. Setiap muslim harus tetap beramar ma'ruf nahi mungkar dengan cara yang baik dan ucapan yang mengena, tidak dengan cara yang kasar dan keras. Disamping juga memperhatikan waktu yang tepat. Ada kalanya, seseorang tidak bisa menerima pengarahan pada waktu tertentu, tetapi ia bisa menerima pengarahan pada waktu yang lain, bahkan dengan lapang dada.



Read More ..

Nasehat Syaikh Ali Bin Hasan Al-Atsari

Nabi :shallallahualaihiwasallam: bersabda :

"Artinya : Siapa yang tidak berterima kasih kepada orang, berarti tidak bersyukur kepada Allah".
Jadi ini merupakan kesempatan yang didalamnya kami ingin menyampaikan rasa syukur (terima kasih) kepada saudara-saudara kami, para da'i yang mengajak (manusia) menuju al-Qur'an dan Sunnah, penyelenggara kegiatan mulia ini di negeri ini yang anda semua tahu betapa banyaknya tersebar bid'ah, merajalelanya khurafat dan bermacam-macam serta beraneka ragamnya golongan/kelompok (ahzab).

Maka da'i ilallah (penyeru manusia untuk kembali menuju Allah) yang berdasarkan bashirah, berdasarkan cahaya ilmu dan berdasarkan sinar pengetahuan (ilmu syar'i -pent) di tengah zaman dan negeri semacam ini, tampaknya ia termasuk orang-orang ghuraba' (tidak umum/aneh) itu. Orang-orang yang memegang bara (ibarat bagi orang yang berpegang pada sunnah pada zaman seperti sekarang -pent), yang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjanjikan orang-orang yang ikhlas di antara mereka sebagai orang-orang yang akan mendapatkan thuba (kebahagian).

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Kebahagianlah bagi Ghuraba' (orang-orang yang tidak umum karena berpegang pada sunnah)"

Ini juga merupakan kesempatan untuk kita saling menguatkan satu sama lain, agar kita bersabar menghadapi bencana yang boleh jadi kita jumpai, atau ujian yang boleh jadi kita hadapi. Karena sesungguhnya seorang Muslim sejati adalah orang yang bersabar.

"Artinya : Jika kamu benar-benar bersabar, niscaya itu lebih baik bagi orang-orang yang bersabar". [An-Nahl : 126]

Ketahuilah wahai saudara-saudara fillah (satu jalan di jalan Allah), bahwa amal perbuatan yang paling dicintai oleh Allah adalah amal perbuatan yang paling terus menerus meskipun sedikit. Karena itu tetap mantaplah berada pada jalan sunnah sekalipun anda berjumlah sedikit. Dan bersemangatlah untuk mencari ilmu walaupun anda semua dihina. Semoga Allah meridhai Ibnu Mas'ud yang mengatakan.

"Artinya : (Beramal) sedikit dalam sunnah lebih baik dari (beramal banyak) dalam bid'ah"

Dari situ pula kamipun katakan : Bahwa apabila kita berada dalam sunnah dengan jumlah sedikit, lebih baik daripada jika kita berada dalam bid'ah dengan jumlah banyak. Karena (sekedar) jumlah banyak tidak mempunyai nilai dalam timbangan. Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan sedikit diantara hamba-Ku yang bersyukur" [Saba' : 13]

Kami memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala agar memberikan anugrah kepada saudara kami semuanya, khususnya yang mulia Syaikh Abdur Rahman at-Tamimi [1] beserta saudara-saudaranya dan sahabat-sahabat yang dicintainya, juga kepada setiap yang memberikan budi luhurnya, terbuka memberikan kebaikannya dan terbuka menerima kebenaran. Agar Allah memberikan anugerah kepada mereka menjadi pembela sunnah, menjadi penolong Ahlu Sunnah, menjadi pintu kebaikan sunnah dan menjadi jalan bagi tersebarnya sunnah.

Sesungguhnya ini semua, jika merupakan tanaman di dunia, maka kelak buah tanaman mereka yang masak akan ada di sisi Allah Tabaraka wa Ta'ala, pada hari ketika orang-orang masuk ke telaga Haudh-(nya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam), tetapi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Menjauhlah-menjauhlah, enyahlah-enyahlah" Ketika itu para Malaikat berkata : "Wahai Rasulullah, mereka telah membuat perubahan-perubahan".

Adalah sebelum itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda (kepada Malaikat) tentang umatnya : "Mereka adalah umatku, mereka adalah umatku" ketika para Malaikat mengusir mereka dan menjauhkannya (dari telaga Haudh).

Namun setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui bahwa mereka telah melakukan perubahan-perubahan dan penggantian-penggantian (terhadap agama -pent), maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Enyahlah ... enyahlah, menjauhlah ... menjauhlah..".

Karena itu kami memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala supaya kita menjadi orang-orang yang sabar dan menjaga diri, tidak melakukan perubahan (terhadap agama) dan tidak berubah, tidak melakukan penggantian (terhadap agama) dan dan tidak berganti. Tetapi menjadi orang-orang yang tetap komitmen terhadap kebenaran, tetap menyeru (orang) untuk berpegang kepada sunnah dan tetap berpegang teguh kepada al-Haq.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berada pada ke-Maha-tinggian-Nya dan berada diatas langit-Nya, agar Dia memantapkan kami dan anda semua untuk menempuh al-Haq (kebenaran), agar Dia memberikan petunjuk kepada setiap orang yang menyelisihi kebenaran dan agar Dia mematikan kita di dalam kebenaran. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah Yang Maha berwenang dan Maha Kuasa untuk melakukan itu semua.

Semoga Allah memberikan shalawat, salam serta barakah-Nya kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya semua.




Read More ..

Nasehat Bagi Wanita Yang Terlambat Nikah

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin



Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Saya ingin meminta saran kepada syaikh bahwa saya dan teman-teman senasib telah ditakdirkan untuk tidak merasakan nikmatnya nikah, sementara umur hampir menginjak masa putus harapan untuk menikah. Padahal Alhamdulillah saya dan teman-teman senasib memiliki akhlak yang cukup dan berpendidikan sarjana dan inilah nasib kita Alhamdulillah. Yang membuat kaum lelaki tidak mau melamar kita disebabkan kondisi ekonomi yang kurang mendukung karena pernikahan di daerah kami dibiayai oleh kedua mempelai. Saya memohon nasehat syaikh untuk kami ?"


Jawaban.
Nasehat saya untuk yang terlambat menikah hendaknya selalu berdo'a kepada Allah dengan penuh harapan dan keikhlasan, dan mempersiapkan diri untuk siap menerima lelaki yang shalih. Apabila seseorang jujur dan sungguh-sungguh dalam do'anya, disertai dengan adab do'a dan meninggalkan semua penghalang do'a, maka do'a tersebut akan terkabulkan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu" [Al-Baqarah : 186]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepadaKu, niscaya Kuperkenankan bagimu" [Al-Mukmin : 60]

Dalam ayat tersebut Allah menggantugkan terkabulnya do'a hambaNya setelah dia memenuhi panggilan dan perintahNya. Saya melihat, tidak ada sesuatu yang lebih baik kecuali berdoa dan memohon kepada Allah serta menunggu pertolongan dariNya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Ketahuilah sesungguhnya pertolongan diperoleh bersama kesabaran dan kemudahan selalu disertai kesulitan dan bersama kesulitan ada kemudahan"

Saya memohon kepada Allah untuk kalian dan yang lainnya agar dimudahkan oleh Allah dalam seluruh urusannya dan semoga segera mempertemukan kalian dengan laki-laki yang shalih yang hanya menikah untuk kebaikan dunia dan akhirat.

[Fatawa Mar'ah, hal. 58]


Read More ..

Nasehat Bagi Orang Yang Selalu Mengikuti Terbitan Majalah Dan Tidak Pernah Menyentuh Al-Qur'an

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz



Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Apa nasehat bagi orang yang pada saat
yang lama tidak pernah menyentuh Al-Qur'an tanpa udzur, bahkan ada yang
selalu mengikuti majalah yang tidak bermanfaat ?

Jawaban.
Di sunnahkan bagi setiap muslim lelaki dan perempuan untuk memperbanyak bacaan Al-Qur'an dengan memperhatikan arti dan maknanya, baik dengan membacanya dari mushaf langsung atau dengan menghafalnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran" [Shaad : 29]

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesunguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri" [Fathir : 30]

Membaca disini mencakup pula mengamalkan, membaca dengan memperhatikan arti dan maknanya. Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam membaca Al-Qur'an adalah sarana untuk bisa mengamalkannya, dan ada pahala yang besar sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan memberikan syafaat bagi yang membacanya pada hari Kiamat" [Hadits Riwayat Muslim dama Shahih-nya]

"Artinya : Yang paling baik di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya" [Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Shahih-nya]

"Artinya : Barangsiapa membaca satu huruf dalam Al-Qur'an, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan pahalanya dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim adalah satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf"

Diriwayatkan dari beliau bahwa beliau berkata kepada Abdullah bin Amr bin 'Ash, "Bacalah Al-Qur'an (sampai tamat) setiap bulan". Abdullah bin Amr bin 'Ash berkata. "Saya bisa membacanya lebih dari itu". Beliau berkata : Khatamkanlah dalam tujuh hari". Dan para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengkhatamkan Al-Qur'an dalam tujuh hari.

Nasehatku untuk para pembaca Al-Qur'an, perbanyaklah bacaan Al-Qur'an dengan memperhatikan arti dan maknanya, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mencari faedahnya dan ilmunya, mengkhatamkannya dalam waktu setiap bulan, kalau bisa kurang dari itu. Itu adalah suatu kebaikan yang agung. Boleh juga mengkhatamkannya kurang dari tujuh hari, tapi jangan lebih cepat dari tiga hari, karena bisa menyebabkan tergesa-gesa dan tidak memperhatikan maknanya. Dan tidak boleh baginya untuk membaca Al-Qur'an kecuali apabila dalam keadaan suci. Tapi apabila membacanya dengan hafalan, maka tidak apa-apa membaca tanpa wudhu. Tapi bila dalam keadaan junub, tidak boleh baginya untuk membacanya, baik dengan membaca dari mushaf maupun dengan hafalan hingga ia mandi, berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad dan penulis kitab-kitab Sunan dengan sanad hasan, dari Ali Radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia berkata : "Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak ada yang menghalanginya dari membaca Al-Qur'an kecuali junub"

[Fatawa Mar'ah, 2/96]


Read More ..

Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul Alamin,shalawat serta salam Allah semoga dilimpahkan kepada Rasul-Nya yang paling mulia, penutup para nabi-nabiNya, juga kepada segenap keluarga,shahabat dan ikhwan-nya yang berpegang teguh dengan sunnahnya dan berpedoman kepada petunjuknya hingga hari pembalasan
Nasihat termasuk bagian dari amar ma’ruf nahi munkar yang sangat penting dalam Islam.Sementara itu masih banyak kaum Muslimin yang belum mengenal hakikat nasehat [1] ,sehingga salah kaprah dalam menilainya.Anggapan bila nasehat adalah celaan ,penghinaan bahkan bisa jadi diidentikan dengan pengkafiran.Dan kesan ini begitu dimasyarakatkan dalam masa pamungkas ini,dimana slogan seperti : damai itu indah,indahnya kebersamaan, biarkanlah masing-masing dalam amalnya,jangan mengunting dalam lipatan dan lain-lain sejenisnya mencuat dan ditelan bulat-bulat sebagai benteng pencegah dari amalan (khususnya) nasehat nahi mungkar.

Kesan tersebut terus digembar-gemborkan layaknya dagangan ,sebagai resep jitu menguatkan status quo melestarikan hal-hal yang dianggap ibadah yang tidak sesuai dengan Islam atau cuma ndompleng dengan stempel nama Islam alias tetep me-lestari-ken acara paguyuban bid’ah dan formula yang pas-pasan buat mempertahankan pendapat yang jauh dari Sunnah seperti bolehnya demokrasi pemilu ,dll.

Dalam kesempatan ini ,kami hadirkan nasihat ulama [2] berkaitan dengan hal-ihwal bid’ah semoga dapat menjadi maslahat bagi kita semua.,mengamalkan apa yang telah disabdakan Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang dilansir dari jalan Shahabat Tamin Ad Dari radhiallahu anhu :

“Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda:”Agama adalah nasihat.”Kami bertanya,”Untuk siapa?”Beliau menjawab,”Untuk Allah Subhanahu wa ta'ala ,KitabNya,RasulNya,dan pemimpin dan umumnya kaum muslimin. [dikeluarkan oleh banyak para imam ahli hadits:Muslim dalam shahihnya: 2/37;Ahmad dalam Musnadnya 4/102-103;Abu Daud dalam Sunan no.4944,An Nasaa’I 7/157,dll]



Karang Tengah,Syawal 1424H

Abu Ismail.email: apriadi27ETyahoo.com




--------------------------------------------------------------------------------


Ibnu Taymiyah dalam Al Fatawa (I/2460 berkata:

“Perkataan-perkataan yang dinukil dari para ulama Salaf perlu diperhatikan dan dipahami benar-benar lafaznya dan perlu akurat dalam menempatkan perkataan-perkataan tersebut sebagai dalil sebagaimana keterangan dari Al Qur’an dan Al Hadits.

[lih. Ar Radd al mufhim, pasal 7 ,syaikh Al Albani]


Catatan:

[1] Imam Ar Raghib,beliau berkata (dalam Al Mufradat: 494),”Nasehat adalah memilih perbuatan dan perkataan yang ada kemaslahatan bagi pelakunya.”

untuk lebih detail masalah “fiqh nasihat” coba lihat postingan terdahulu di mailist ini.

[2] Yakni atsar-atsar Ibnu Mas’ud dan Fudhail bin Iyadh yang diambil dari Lamurud Durri Al Mantsuri Hiina al Qaul al Ma’tsur, karangan Abu Abdillah Jamal bin furaihan al Haritsy, edisi Indonesia :Kilauan Mutiara Hikamh Dari Nasihat Salaful Ummah , tarjim: Idral Harits, Penerbit Pustaka As Salaf ,cet 1 Juli 1998



******PERKATAAN IBNU MAS’UD********
6. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Ikutilah dan janganlah berbuat bid’ah !! Sebab sungguh itu telah cukup bagi kalian. Dan (ketahuilah) bahwa setiap bid’ah itu sesat.

(Ibnu Nashr: 28 dan Ibnu Wudldlah: 17)

8. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Berpeganglah kamu dengan ilmu (As Sunnah) sebelum diangkat, dan hati-hatilah kamu dari mengada-adakan hal yang baru (bid’ah) dan melampaui batas dalam berbicara dan membahas suatu perkara , hendaknya kalian tetap berpegang dengan contoh yang telah lalu."

(ad-Darimiy 1/66 no. 143 , Al Ibanah Ibnu Baththah 1/324 no. 163 , Al-Lalikai 1/87 no. 108 dan Ibnu Wadldlah 32)

9. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada sungguh-sungguh di dalam bid’ah.

(Ibnu Nashr 30, Al-Lalikai 1/88 n0. 114 dan Al-Ibanah 1/320 no. 161)


** Syaikh Ali Hasan dalam ilmu ushul bida’ mengatakan : “Kata-kata mutiara ini juga diriwayatkan dari banyak shahabat diantaranya Abu Darda’ dan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhuma, seperti yang disebutkan dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah (no. 114 & 115),…

Sederhana dalam sunnah maksudnya tetap dalam AsSunnah meskipun hanya mengamalkan perkara yang wajib (saja). Ini termasuk orang-orang pilihan seperti yang dikatakan dalam firman Allah surat al-Fathir :32.

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.

Juga seperti halnya diungkapkan oleh Abul Ahwas :”Wahai Sallam tidurlah dengan cara sunnah dan itu lebih baik bagimu daripada bangun malam dengan cara bid’ah.”

24. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Hai manusia tetaplah kalian ta’at dan berada dalam al-jama’ah karena sungguh ia itu adalah tali Allah yang Ia perintahkan berpegang dengannya dan sesungguhnya apapun yang tidak disukai dalam jama’ah jauh lebih baik daripada apapun yang disukai di dalam perpecahan.”

(Al-Ibanah 1/279 no. 133)


58. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Ketahuilah , hendaknya jangan satupun dari kalian bertaklid kepada siapapun dalam perkara agamamu sehingga (bila) ia beriman (maka) ikut beriman, apabila ia kafir (maka) ikut pula menjadi kafir.

Maka jika kamu tetap ingin berteladan , maka ambillah contoh dari yang telah mati, sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah.”

(Al-Lalaikai 1/93 no. 130 dan Al-Haitsamy dalam Al Majma’ 1/180)

97. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Barangsiapa yang suka memuliakan diennya , maka tinggalkanlah bermajelis dengan ahli ahwa’ sebab demikian itu lebih sulit lepasnya dibanding penyakit kulit.”

(Al Bida’ 57)

150. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman, karena seorang muslim akan mengikuti muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir lainnya. (Al Ibanah 2/477 no. 502 , Syarhus sunnah al-Baghawy 13/70)

151. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya.” (Al-Ibanah 2/476 no. 499)

152. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (karena seperti dia) .” (Al-Ibanah 2/477 no. 501)

173. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Jika seorang mukmin memasuki masjid yang didalamnya berkumpul 100 orang dan yang muslim hanya satu , ia tentu akan masuk kedalamnya lalu duduk didekatnya. Dan jika seorang munafik memasuki masjid yang didalamnya berkumpul 100 orang dan hanya terdapat satu orang munafik juga, ia akan tetap masuk dan duduk didekatnya.

254. Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu berkata :

“Sungguh saya benar-benar membenci orang yang kosong, tidak beramal untuk dunia dan tidak beramal pula untuk akhirat.”

(Bayan Fadhli ilmis salaf hal. 38)



*********PERKATAAN FUDHAIL BIN IYADH**********


65. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

“Siapa yang duduk dengan ahli bid’ah maka berhati-hatilah darinya, dan siapa yang duduk dengan ahli bid’ah tidak akan diberi al-hikmah. Dan saya ingin jika antaqra saya dan ahli bid’ah ada benteng dari besi yang kokoh. Dan saya makan di samping Yahudi dan Nashrani lebih saya sukai daripada makan di sebelah ahli bid’ah”.

(Al-Lalikai 4/638 no. 1149)

87. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

“Saya telah mendapatkan bahwa sebaik-baik manusia seluruhnya adalah ahli sunnah dan mereka senantiasa melarang bergaul dengan ahli bid’ah.”

(Al-Lalikai 1/138 no. 267)

90. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

“Jangan kamu duduk (bermajlis) bersama ahli bid’ah sebab sesungguhnya saya khawatir kamu tertimpa laknat”.

(Al-Lalikai 1/137 no. 261-262)

91. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

“Hati-hatilah kamu (jangan) masuk kepada ahli bid’ah karena sesungguhnya mereka itu selalu menghalangi orang dari al haq”.

(Al-Lalikai 1/137 no. 261-262)


99. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

“Ahli bid’ah itu , jangan kamu mempercayainya dalam soal agamamu dan jangan ajak dia bermusyawarah dalam urusanmu dan jangan duduk dengannya. Maka siapa yang duduk dengannya Allah wariskan kepadanya kebutaan (dari al haq).”

(Al-Lalikai 1/138 no. 264)

122. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

“Jauhilah olehmu duduk dengan orang yang dapat merusak hatimu, dan jangan duduk dengan pengekor hawa nafsu, karena sesungguhnya saya khawatir kamu terkena murka Allah.”

(Al-Ibanah 2/462-463 no. 451-452)

132. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

“Siapa yang menghormati ahli bid’ah berarti ia memberi bantuan untuk meruntuhkan Islam, dan siapa yang tersenyum kepada ahli bid’ah maka ia telah menganggap remeh apa yang diturunkan Alllah Azza Wa Jalla kepada Muhammad Shalalllahu ‘alaihi wa sallam . Dan siapa yang menikahkan puterinya kepada mubtadi’ (ahli bid’ah) , maka ia telah memutuskan hubungan silaturahminya, dan siapa yang mengiringi jenazah seorang mubtadi’ akan senantiasa berada dalam kemarahan Allah sampai ia kembali.” Ia juga mengatakan :” Saya makan bersama Yahudi dan Nashrani dan tidak makan bersama mubtadi’

(Syarhus Sunnah 139)

172 Al-FudhaIL Bin Iyadl mengomentari hadits :

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :” Ruh-ruh itu adalah sepasukan tentara , maka yang saling mengenal akan bergabung dan yang tidak mengenal akan berselisih.”

(Shohih , Bukhory 3158 dan Muslim 2638)

“Tidak mungkin seorang sunny (ahlu sunnah) akan berbasa-basi kepada ahli bid’ah kecuali jika ia dari kalangan munafiq.”

(lih. Ar-Rad ‘alal Mubtadi’ah li Ibni Al-Banna)

181. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

“Siapa yang masuk kepada ahli bid’ah , maka tidak ada kehormatan baginya.”
(Al-Lalikai no. 282)

232. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

“Ikutilah jalan-jalan petunjuk ! Dan tidak akan merugikanmu meskipun sedikit orang yang menempuhnya. Sebaliknya jauhilan jalan-jalan kesesatan!! Dan janganlah tertipu dengan banyaknya orang-orang yang celaka di dalamnya” (Al I’thisham 1/112)

247. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

“Saya lihat jiwaku ini , ramah bergaul dengan mereka yang dinamakan teman.Maka saya lihat dari pengalaman , ternyata kebanyakan mereka adalah orang-orang yang iri (dengki) dengan nikmat teman-nya. Dan mereka tidak menyembunyikan kekeliruan teman-nya , juga senang mengabaikan hak teman duduknya, juga tidak mau membantu teman-nya dengan harta mereka.Maka ketika saya perhatikan perkara ini , ternyata kebanyakan teman itu iri dengan kenikmatan orang lain.

Padahal Allah yang Maha suci sangat cemburu kepada hati seorang mukmin yang cernderung jinak dengan sesuatu (selain Allah) . maka Ia keruhkan dunia dan penghuninya agar si Mukmin hanya menyenangiNya (jinak kepada Allah).

Maka sepantasnya kamu menganggap semua mahluk itu sebagai kenalan dan jangan kamu tampakkan rahasiamu kepada mereka . Jangan anggap sahabat orang yang tidak cocok untuk digauli tetapi pergaulilah mereka secara zahir.

Jangan bergabung dengan mereka kecuali dalam keqadaan darurat dan itupun sejenak saja, kemudian tinggalkanlah mereka. Setelah itu hadapilah urusanmu sambil berserah diri kepada Penciptamu (Allah) sebab sesungguhnya tidak ada yang dapat mendatangkan kebaikan selain Allah dan tidak ada yang dapat menolak kejelekan kecuali Dia.”

(Al I’thisham : 1/158)


248. Al-FudhaIL Bin Iyadl berkata :

Apabila terjadi kekasaran diantara kamu dan seseorang, maka berhati-hatilah kamu darinya. Jangan kamu harapkan persahabatan yang murni dan mempercayainya, sebab sesungguhnya dia akan selalu memperhatikan tindak-tandukmu, sedangkan kedengkian nya tersembunyi.

Adapun orang yang awam maka menjauh dari mereka merupakan keharusan. Karena mereka tidak termasuk jenismu, maka apabila terpaksa duduk bersama dalam majelis mereka maka (lakukanlah) sesaat saja dan jagalah kewibawaan dan kewaspadaanmu, sebab bisa jadi kamu mengucapkan satu kata dan mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang keji.

Jangan kamu menyuguhkan ilmu kepadqa orang yang jahil dan (jangan pula) kamu suguhkan orang-orang yang lalai dengan fiqh dan orang yang dungu dengan keterangan (al bayan), tapi perhatikanlah apa yang menyelamatkan mereka dengan lemah lembut dan berwibawa.

Jangan meremehkan musuh-musuhmu karena mereka mempunyai tipu daya yang tersembunyi, dan kewajibanmu hanyalah bergaul dan berbuat baik kepada mereka secara zhahir. Dan termasuk di antara mereka adalah orang-orang yang dengki , maka tidak pantas mereka mengetahui nikmat yang kamu dapatkan. Dan sesungguhnya al-‘ain itu haq , sedangkan bergaul dengan mereka secara zahir itu harus.

(al hujjah 1/304)




--------------------------------------------------------------------------------


Dari kitab:

Lamurud Durri Al Mantsuri Hiina al Qaul al Ma’tsur,
karangan Abu Abdillah Jamal bin furaihan al Haritsy,
edisi Indonesia :Kilauan Mutiara Hikamh Dari Nasihat Salaful Ummah ,
tarjim: Idral Harits, Penerbit Pustaka As Salaf ,cet 1 Juli 1998

Read More ..

Add to Google Reader or HomepageAdd to WebwagSubscribe in RojoAdd to My AOLAdd to netvibesSubscribe in BloglinesAdd to The Free DictionaryAdd to PlusmoSubscribe in NewsAlloyAdd to Excite MIXAdd to netomat HubAdd to fwickiAdd to WebwagAdd to AttensaSubscribe in podnovaAdd to Pageflakes

Design by JUNDULLAH LA MANIA Visit Original Post